Tinggalkan Profesi Bidan, Warga Luwu Fokus Usaha Beppa Tori

oleh -3.760 views

LUWU | KAREBANEWS. com- Selalu ada jalan bagi mereka yang tak kenal lelah untuk berjuang mengais rejeki. Hal ini tidak memandang gelar pendidikan yang dicapai.

Sebuah gelar yang diperoleh dari perguruan tinggi, bukan jaminan untuk langsung mendapatkan pekerjaan atau sebuah jabatan dalam instansi atau perusahaan.

Seperti yang di geluti Darnisa, warga Desa Barammase, Kabupaten Luwu, Sulawesi – Selatan. Darnisa merupakan lulusan perguruan tinggi kesehatan, dengan profesi sebagai bidan.

Seorang perempuan dengan senyuman yang cukup khas ini, pernah mencicipi profesi sebagai seorang bidan dan membantu proses persalinan. Mengabdi sebagai salah satu tenaga honorer K2, namun hingga saat ini tak ada titik terang.

“Kita selalu diminta masukkan berkas, tapi yah tidak ada kejelasan,” Ucap Darnisa.

Tak ingin larut dalam kondisi tersebut, Darnisa memilih membuka usaha rumahan yang bergerak di bidang pembuatan kue tradisional. Hal ini telah digelutinya selama kurang lebih 3 tahun lamanya.

“Ini sudah berjalan 3 tahun, kue ini disebut beppa tori, kue khas luwu yang terbuat dari paduan gula merah, tepung beras dan ditabur wijan,” Terang Darnisa.

Perhari Darnisa mengaku mengolah 10 kilo beras yang kemudian di olah menjadi tepung. Setelah itu gula merah di cairkan hingga merata dan disaring untuk menjaga tingkat kebersihannya.

Tepung kemudian dicampur dengan cairan gula hingga membentuk adonan. Adonan yang telah merata ditaburi wijan dan dicetak berbetuk lonjong. Setelah itu proses penggorengan dimulai.

Saat ditanya tentang keputusannya meninggalkan prosesi sebagai seorang bidan, Darnisa mengaku tidak menyesal sedikitpun.

” Banyak yang menyayangkan keputusan ini, apalagi saya sudah lancar melakukan proses persalinan, disisi lain keluarga juga mendukung, apapun pekerjaan itu yang penting cara dan hasilnya halal,” Jelasnya.

Pembuatan beppa tori kini telah menjadi rutinitas harian bagi Darnisa. Hasil dari 10 kilo beras yang diolah setiap harinya ludes ditangan para pembeli.

“Pembelinya pengendara yang lewat, kadang ada pesanan masuk dari keluarga atau teman, biasanya mencapai 500 hingga 800 ribu rupiah,” Terangnya sambil menggoreng.

Untuk memulai usaha ini, modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Cukup untuk membeli gula, beras, wijan dan juga kotak untuk mengemasnya.

“Hasilnya lumayan untuk kebutuhan keluarga sehari – hari, tiap kemasan besar harganya 18.000 rupiah sedangkan kemasan kecil 5000 rupiah. Terkadang kemasan kecil dijadikan bonus bagi pembeli,” Pungkasnya.

Untuk anda yang penasaran ingin mencicipi beppa tori atau dijadikan sebagai oleh-oleh, silakan datang ke Desa Barammase, Kabupaten Luwu. Lebih tepatnya berada di sisi utara perbatasan Kota Palopo dan Kabupaten Luwu.

(One) 

Tinggalkan Balasan