Siswa di Hukum Makan Kotoran, Ini Tanggapan Ketua Umum Komnas Anak Indonesia

oleh -213 views

MALANG|KAREBANEWS.com- Peristiwa yang menimpa 77 siswa Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere, Kabupaten Sikka, mendapat atensi dari Ketua umum Komnas Anak Indonesia.

Arist Merdeka Sirait bahkan meminta Kepala Dinas Pendidikan Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengusut tuntas kasus memalukan dan menjijikkan serta menindak pendamping siswa Seminari tersebut.

“Sesuai dengan ketentuan UU RI No.35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, tindakan dan perlakuan pendamping siswa Seminari Bunda Segala Banga Maumere merupakan kekerasan fisik yang dapat diancam dengan pidana penjara minimal 5 tahun,” Terang Arist Merdeka Sirait.

Komnas Perlindungan Anak Indonesia meminta Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kabupaten Sikka untuk membentuk tim advokasi dan rehabilitasi sosial anak.

“Tim ini akan bekerja memberikan pendampingan hukum dan berkordinasi dengan Polres Sikka serta pendampingan psikososial anak,”Jelas Arist Merdeka Sirait kepada sejumlah awak media di Kota Batu Malang, Jawa Timur Rabu (26/02/20).

Lebih jauh Arist menjelaskan, menyuapkan kotoran manusia ke mulut para siswa sebagai hukuman adalah tindakan diluar akal manusia.

“Tindakan ini merupakan perlakuan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat manusia dan tidak bisa di toleransi,” Pungkas Ketua Umum Komnas Anak.

Sebelumnya pada Rabu (19/2/20) 77 siswa dari 89 siswa kelas 7 Seminari Bunda Segala Bangsa, dipaksa memakan kotoran manusia oleh 3 orang pendamping.

Salah seorang siswa yang menjadi korban menceritakan, setelah makan siang dia bersama temannya  kembali ke asrama untuk beristirahat. Namun saat tiba di asrama, salah satu pendamping menemukan kotoran manusia dalam kantong plastik di sebuah lemari kosong.

Pendamping kemudian memanggil semua siswa, menanyakan siapa yang menyimpan kotoran. Namun tidak ada yang mengaku menyimpan kotoran tersebut.

Karena tidak ada yang mengaku, pendamping langsung mengambil sendok dan menyuapkan kotoran itu kedalam mulut para siswa. Mereka terpaksa menerima perlakuan itu tanpa perlawanan.

“Kami terima dan pasrah, jijik sekali tetapi kami tidak bisa melawan”, Ujar siswa kelas 7 yang namanya tak ingin di sebut.

Peristiwa ini tidak dilaporkan para siswa karena takut akan di siksa, karena kedua pendamping menyuruh mereka agar tidak menceritakan persoalan itu keluar seminari. Namun, setelah kejadian itu 1 orang temannya lari ke rumah orang tuanya untuk memberitahukan hal tersebut.

Kasus itu pun terbongkar pada Jumat (21/2/20) ketika ada orang tua siswa yang menyampaikan hal tersebut dalam grup WA grup humas sekolah.

Martinus salah satu orang tua murid merasa sangat kecewa terhadap perlakuan pendamping asrama yang menyiksa anak-anak dengan memaksa makan kotoran manusia.

“Pihak sekolah harus beri tindakan tegas bagi para pelaku yang salah, bila perlu dipecat, atas kejadian ini saya putuskan memindahkan anak saya dari sekolah ini. biar pindah dan mulai dari awal di sekolah lain saja,”Ujar Martinus.

(One) 

Tinggalkan Balasan