OPINI: “Menara Payung” Perlu (kah) ?

oleh -210 views
Bata Manurun, (Ketua AMAN Tana Luwu)

OPINI – Carut marut rencana pembangunan mega proyek “Menara Payung” dikota yang berjuluk Kota Jasa (Kota Palopo), sampai hari ini masih menuai beragam kritikan dan penolakan dari berbagai kalangan. Diketahui ada tujuh zona yang ada di kawasan menara payung tersebut meliputi, area cendera mata, amphitheater, area kuliner, area edukasi, area ruang publik, area istana kedatuan Luwu dan area transisi.

Bukan tanpa dasar, menara yang digadang-gadang akan mengalahkan tinggi Monumen Mandala di Makassar, yang hanya memiliki tinggi 75 meter itu, akan menjulang setinggi 86 meter dengan kabin seluas 19 meter persegi, atau dengan kata lain, angka 1986 adalah tahun kelahiran Kota Administratif (Kotif) Palopo.

Untuk memuluskan keinginan Pemerintah Kota (Pemkot) Palopo, telah mengusulkan pinjaman sebesar Rp103 Milyar dari PT. Sarana Multi Infrastruktur (SMI), untuk dimasukkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2020, meski diketahui saat ini mendapat point evaluasi dari Banggar ditingkat Provinsi, karena dianggap akan membebani APBD, ditambah dokumen perencanaan yang belum sepenuhnya lengkap.

Kritikan demi kritikan, tentang menara yang nantinya berdiri menghiasi lokasi eks Luwu Plaza (eks pasar lama) pasca direlokasikan ke Jalan Andi Tadda, pernah menjadi bahan disuksi penting dikalangan praktisi arsitek, budayawan, organisasi pemuda dan khalayak umum, oleh “Urban Forum”, disalah satu Warkop dibilangan Jl. Kartini pada Jumat 22/11/2019. Namun sayangnya pertemuan yang sifatnya penting tersebut, tak dihadiri satupun sosok perwakilan dari Pemkot Palopo.

Feasebility Study (FS) dengan bahasa yang ringkas dan mudah dipahami oleh peserta kala itu, sebut saja yang menjadi aspeknya seperti aspek hukum, tata ruang, aspek sosial budaya. Kritikan dan penolakan lahir dari Aliansi Masyarakat Nusantara (AMAN) Tana Luwu, dengan berdirinya Menara Payung di kawasan Lalebata itu, sama halnya dengan bekerjasama dengan cara berhutang, tentunya dianggap saling merugikan, pihak sebelah masih punya pekerjaan rumah lain yang perlu dituntaskan.

Kawasan Lalebata adalah lokasi yang nilainya memiliki nilai historis dan area kesakralan bagi Wija To Luwu, sebagai Ware terakhir, tentunya harus dihormati dan kembali dihidupkan dengan pendekatan budaya. Pembangunan Menara payung, dianggap program yang dibuat berdasarkan aspirasi masyarakat, namun dari keinginan pemerintah.

Sekian,

Salam Penulis: Bata Manurun, (Ketua AMAN Tana Luwu)

Tinggalkan Balasan