Malam Mengenang Almarhum HPA Tenriadjeng, Haidir Basir Persembahkan Puisi Gubahannya.

oleh -202 views

PALOPO|KAREBANEWS.com- Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Palopo, turut ambil bagian dalam “IM MEMORIAM” Malam Mengenang Kepergian Alm. HPA. Tenriadjeng, mantan Wali Kota Palopo periode 2003 – 2013, di Pelataran Taman I Love Palopo, Sabtu (22/2/20) malam.

Haidir Basir yang pernah menjabat sebagai Asisten II semasa HPA Tenriadjeng menjabat, ikut tampil melantunkan puisi “Prosa Lirik Untukmu Opu” yang dibuatnya sebagai bentuk persembahan kepada almarhum.

” Dini hari yang sepi dia berangkat, setelah usai urusan duniawi. Raga dan rohaninya terpisah sudah, salam terkahir dari sujud yang khusu’ mengiringinya pergi. Terhentak batinku ketika fajar mulai menggelitik halimun di subuh pertama. Angin kembara mengirim kabar duka lara tentang mangkatnya seorang kesatria pembuka tabir peradaban negeri Palopo,” Teriak Haidir mengawali puisinya dengan suara lantang.

Haidir Basir yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kepegawaian (BKD) Kota Palopo mengatakan, almarhum HPA Tenriadjeng merupakan sosok orang yang dirinya teladani.

“Beliau pernah berkata kepada saya, kalau kita mau bersama – sama jangan ada orang yang harus terlukai, kalau kita ingin bersatu jangan ada orang yang harus tersingkir. Inilah ungkapan sangat manusiawi dari almarhum kepada kami,” Jelas Haidir Basir.

Lebih jauh HB sapaan akrab Hadir Basir menggambarkan kepribadian almarhum selama menjadi wali kota yang membuat mereka hampir tidak pernah silang pendapat, cekcok dan saling sikut, melainkan saling menyayangi satu sama lain.

” Beliau adalah pengayom, beliau menaungi semua orang yang ada dibawahnya , kebersamaan yang ia bangun memberikan arti bahwa semua orang satu dalam kebersamaan,” Pungkasnya.

Kegiatan ini di usung pekerja seni kampus (PESEK) se Kota Palopo yang berkolaborasi dengan Roemah Simpoel dan Formasi Palopo.

 

Berikut puisi lengkap gubahan Haidir Basir:

Prosa Lirik Untukmu Opu

Dini hari yang sepi dia berangkat, setelah usai urusan duniawi. Raga dan rohaninya terpisah sudah, salam terakhir dari sujud yang khusu’ mengiringinya pergi.Terhentak batinku ketika fajar mulai menggelitik halimun di subuh pertama. Angin kembara mengirim kabar duka lara tentang mangkatnya seorang kesatria pembuka tabir peradaban negeri Palopo. 

Hari ini kenangan itu mulai merekah, orang – orang berkata engkau orang yang baik. Rakyatmu pun pernah bilang engkau seorang bijak bestari. Kawan – kawanmu menyebut engkau sang pengasih. Adik – adikmu tak luput memanggilmu sang penyayang. Anak – anakmu memuji sikap keramahan kepribadianmu yang luhur tanpa membedakan satu sama lain. 

Bahkan lawan mu sekalipun mengatakan engkau sangat cerdas, tegas dan pemberani, namun pemaaf. Ketika engkau mengambil keputusan pendapat semua orang kau hargai. Engkau adalah payung bagi mereka dalam kebersamaan. 

Detak waktu tak lagi surut ke belakang, kenangan itu mulai merekah. Dihari pertama memimpin Palopo, kita duduk berdua dalam ruang yang hening. Kita bercerita tentang kepemimpinan di negeri ini, tak jarang kita berdebat, tampak dibalik pikiranmu figur kemuliaan yang menuntun watak mu. 

Engkau bilang padaku, sebagai pemimpin kita tidak boleh diam, kita tidak boleh tidur sebelum rakyat kita tidur. Sebelum rakyat kita bangun, kita harus lebih dahulu terbangun. Salami Lah setiap orang di hadapanmu, sebagai wujud penghargaan kita kepadanya. Hargai apa yang di ucapkan karena itu adalah kebenaran baginya. 

Di hari ketujuh ini kenangan itu telah merekah, kepergian mu kini telah terasa, ketika membayangkan wajahmu aku tak dapat berkata apa – apa lagi.

Selamat jalan sahabatku 

Selamat jalan kakakku

Selamat jalan ayahku

Selamat jalan Opuku yang pernah mengukir sikapku. 

(One) 

Tinggalkan Balasan