,

Harga Gula dan Bawang Merah Melejit, Ini Saran Ekonom

oleh -88 views

JAKARTA|KAREBANEWS.com- Komoditi bawang merah dan gula pasir hingga saat ini memiliki harga yang melambung tinggi. Dipasaran dengan rata-rata nasional bawang merah mencapai Rp. 45.500/KG.

Kenaikan harga tertinggi untuk bawang merah terjadi di Papua yang menembus angka Rp. 80.850/kg. Sementara harga gula rata-rata nasional Rp. 18.300/kg. Jika merujuk ke harga acuan ditingkat konsumen yang ditetapkan pemerintah Rp. 12.500/kg.

Menurut peneliti center of food, energy, and sustainable development Indef Dhenny Yuartha Junita, kenaikan dua komoditas tersebut memang paling tinggi di Ramadhan tahun ini, dibandingkan tahun 2019.

“Jika dilihat tren beberapa komoditas, kenaikannya sudah melewati kenaikan tertinggi tahun sebelumnya. Tahun lalu bawang merah sekitar Rp. 40.60-an, sekarang sudah tembus Rp. 45.000-an. Sedangkan untuk gula tahun lalu Rp. 14.000-an, sekarang sudah Rp. 18.000-an/kg,” terang Dhenny dilansir dari detik.com.

Menurutnya, kenaikan yang melejit di tahun ini disebabkan oleh psikologi pasar pada bulan Ramadhan yang diiringi pandemi virus corona dan persoalan distribusi. Pasalnya Kementerian Pertanian sudah mengklaim stok pangan aman hingga Agustus 2020.

“Jika memang betul datanya cukup, berarti ada masalah di psikologi pasar dan distribusi. Psikologi pasar punya pengaruh yang besar dalam mempengaruhi harga. Padahal harusnya saat ini adalah musim panen di beberapa wilayah seperti Brebes. Gula ini yang unik, sekarang kan musim giling tapi kenaikan harga justru diluar nalar,” tutur Dhenny.

Ia berpendapat pemerintah harus tetap melakukan pembatasan belanja yang sebelumnya pernah ditetapkan, namun dicabut setelah 3 hari pelaksanaanya.

“Pembatasan ini perlu, tidak hanya untuk mengendalikan psikologis tapi juga menekan tindakan spekulan untuk memainkan harga,” jelasnya.

Kedua jika ada komoditas pangan yang dipenuhi dari impor, perizinan dan pelaksanaannya harus dipercepat.

“Jangan sampai sepeti kasus gula, sudah lama persetujuan impor, tapi impor tidak turun – turun. Jangan sampai ada kasus impor sudah dilakukan, tapi sengaja tidak didistribusikan untuk nunggu harga tinggi dulu. KPPU bisa menyelidiki persoalan ini,” papar Dhenny.

Selain itu, pemerintah juga disarankan perlu menjamin harga beli yang layak ditingkat petani. Pada jangka panjang, pemerintah juga perlu menyiapkan sistem data terintegrasi antar-sentra produksi untuk memperoleh laporan panen di seluruh wilayah sentra produksi.

“Terakhir, jangan sampai ketika sentra produksi melakukan PSBB, daerah – daerah yang punya ketahan pangan rendah dan sangat bergantung dengan daerah lain justru terhambat alokasi pangannya,” pungkas Dhenny.

(Sumber.detik.com) 

Tinggalkan Balasan